Senin, 23 April 2018 | 07.04 WIB
KiniNEWS>Bola>Indonesia>SOS Soroti Kandidat Calon Pengurus PSSI Didominasi Politisi

SOS Soroti Kandidat Calon Pengurus PSSI Didominasi Politisi

Kongres PSSI

Reporter : Rakisa | Sabtu, 22 Oktober 2016 - 02:00 WIB

IMG-224

Enam dari sembilan calon Ketua Umum PSSI saat Debat Calon yang digelar PSSI. (Kininews/doc)

Jakarta, kini.co.id – LSM Sepakbola, Save Our Soccer (SOS) menyoroti sejumlah kandidat yang akan bertarung dalam Kongres PSSI 10 November mendatang di Jakarta.

Berdasarkan hasil riset Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) #SOS, dari 86 nama yang kandidat yang terdiri dari 9 calon Ketua Umum, 18 Calon Wakil Ketua Umum dan 59 calon Komite Eksekutif, mereka akan memperebutkan 15 posisi di kepengurusan Federasi Sepakbola Nasional, yakni satu Ketua Umum, dua Wakil Ketua Umum, dan 12 Komite Eksekutif. Namun demikian dari 86 kandidat tersebut, jika diringkas hanya ada 64 kandidat, pasalnya beberapa nama mencalonkan diri untuk dua hingga tiga posisi sekaligus.

Dari 64 kandidat tersebut adalah hal yang menarik dan mendapatkan kritikan pedas SOS, yakni 50 persen lebih adalah politisi dengan rincian 34 anggota partai politik, 22 orang praktisi sepakbola, empat orang berlatar belakang militer dan polisi serta empat orang yang merupakan mantan pemain sepak bola.

Banyaknya politisi yang jadi kandidat pengurus PSSI, seharusnya tak lagi dipimpin oleh politisi, melainkan oleh mereka yang memilki karakter ‘NABI’ yakni singkatan dari Netral, Aktif, Berani, dan Integritas.

“Untuk sepak bola Indonesia yang saat ini berada di titik nadir, PSSI harus dipimpin oleh ‘NABI’, bukan politisi,” ujar Koordinator SOS, Akmal Marhali dalam rilisnya, Jumat (21/10).

Mereka yang berlatar belakang politisi, kata Akmal yakni Hinca Panjaitan, Jackson Andre William Kumaat dari Partai Demokrat, Tony Apriliani, Erwin Aksa, Erwin Dwi Budiawan, Kadir Halid, Adang Gunawan dari Partai Golkar, Subardi dari Partai Nasdem, Robertho Rouw, Fery Djemy, R. Bambang Pramukantoro, Diza Rasyid Ali dari Partai Gerindra, Djamal Aziz dari Hanura, dan Cheppy T. Wartono dari PDI Perjuangan.

“Sudah waktunya sepakbola kita tak lagi dijadikan kendaraan politik. Sepakbola harus dikembalikan ke hakikatnya. Tidak lagi dipolitisasi terus menerus. Biarkan sepakbola menjadi milik para pelaku sepakbolanya,” kata Akmal.

Menurut SOS, netral berarti pengurus PSSI ke depan tidak membawa kepentingan kelompok, politik, dan bisnis tertentu seperti yang terjadi sebelumnya. Pengurus juga harus aktif. Tidak boleh lagi ada rangkap jabatan. Ia juga harus berani menegakkan konstitusi organisasi dan payung hukum yang berlaku. Tidak lagi tebang pilih dalam mengambil keputusan. Integritas berarti punya tanggung jawab moral dan profesional dalam membangun sepakbola Indonesia menuju prestasi yang diidamkan.

“Mereka yang punya karakter ‘NABI’ akan fokus memimpin PSSI. Sepakbola Indonesia tidak boleh lagi dikelola sambilan. Mereka yang orang politik harus memilih antara politik atau sepakbola. Mereka yang punya jabatan pemerintahan juga harus memutuskan mundur untuk konsen mengurus bola. Mereka yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Provinsi atau CEO Klub juga harus memilih. Jangan lagi ada rangkap jabatan. Semua pengurus inti PSSI harus fokus untuk sepakbola,” tutur Akmal.

Selain itu, masih menurut Akmal selain di dominasi politisi, banyak kandidat yang juga rangkap jabatan, mulai dari pejabat pemerintahan seperti Eddy Rumpoko (Wali Kota Batu), Eddy Rahmayadi (Pangkostrad), dan Condro Kirono (Kapolda Jateng).

Termasuk ada juga yang berstatus sebagai Presiden/CEO Klub Sepakbola seperti Iwan Budianto (Arema Cronus), Pieter Tanuri (Bali United), Dodi Reza Alex Nurdin (Sriwijaya FC), Yoyok Sukawi (PSIS Semarang), dan Gede Widiade (Bhayangkara FC).

Selain itu, ada yang berstatus sebagai Ketua Asosiasi Provinsi seperti Gusti Randa (DKI Jakarta), Johar Ling Eng (Jawa Tengah), Duddy S. Sutandi (Jawa Barat), Yunus Nusi (Kaltim), Dirk Soplanit (Maluku), M. Iqbal Ruray (Maluku Utara), serta Sabaruddin Labamba (Sulawesi Tenggara).

Maka dari itu, PSSI sudah seharusnya diarahkan ke semangat pendiriannya pada 19 April 1930 di Yogyakarta sebagai alat persatuan dan kesatuan bangsa.

“PSSI juga harus dikembalikan ke makna sesuai singkatannya, Profesional-Sportif-Sehat-Integritas. Ini penting untuk kita jaga bersama,” pungkasnya.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Bola Terkini Lainnya
Babak 16 besar Liga Champions: Madrid tantang PSG, Chelsea vs Barcelona
Liga Champions - Senin, 11 Desember 2017 - 19:04 WIB

Babak 16 besar Liga Champions: Madrid tantang PSG, Chelsea vs Barcelona

Juara bertahan Real Madrid mendapat lawan berat di babak 16 besar Liga Champions 2017/2018. Dalam undian (drawing) yang digelar ...
Bologna dilibas AC Milan 1-2
Serie A - Senin, 11 Desember 2017 - 05:57 WIB

Bologna dilibas AC Milan 1-2

Bologna harus mengakui keunggulan AC Milan dengan skor akhir 1-2 pada lanjutan Liga Italia pekan ke-16 di Stadion Giuseppe ...
Villareal menyerah 0-2 oleh Barcelona
Spanyol - Senin, 11 Desember 2017 - 05:45 WIB

Villareal menyerah 0-2 oleh Barcelona

Villareal harus menyerah 0-2 atas Barcelona dalam laga pekan ke-15 Liga Spanyol di Stadion Ceramica, Senin (11/12).Bagi Barcelona kemenangan atas ...
Balotelli jadi penentu kemenangan Nice atas Nantes 2-1
Ligue 1 Perancis - Senin, 11 Desember 2017 - 05:23 WIB

Balotelli jadi penentu kemenangan Nice atas Nantes 2-1

Penyerang asal Italia, Mario Balotelli, mencetak gol penentu yang memastikan OGC Nice menang 2-1 atas Nantes pada pertandingan Liga Prancis ...
Atletico Madrid kalahkan Real Betis 1-0
Spanyol - Senin, 11 Desember 2017 - 05:04 WIB

Atletico Madrid kalahkan Real Betis 1-0

Atletico Madrid meraih kemenangan penting atas Real Betis dengan skor 1-0 pada pertandingan Liga Spanyol pekan ke-15 di Stadion Benito ...
Lukaku dituding biang kekalahan United 1-2 atas City
Inggris - Senin, 11 Desember 2017 - 04:50 WIB

Lukaku dituding biang kekalahan United 1-2 atas City

Duel derbi antara Manchester City dengan Manchester United berakhir dengan keunggulan bagi David Silva dan kawan-kawan, dengan skor 2-1 pada ...